Sebenarnya sudah beberapa kali liburan ke Bali, tapi belum pernah kepengen sharing cerita tentang kepergian ke pulau seribu pura ini . Kali ini, entah kenapa, kok rasanya excited and ingin berbagi pengalaman dengan rekan2 pembaca blog ini.
Perencanaan
Kepergian kali ini memang sudah direncanakan sejak dua minggu lalu. Habis lebaran kok rasanya pengen refreshing bersama keluarga, lokasinya tidak di luar negeri, relatif dekat dng Jakarta, terjangkau dan yang pasti ada lautnya. Sebenarnya ada keinginan pergi ke Lombok, tapi jari2 ini kok selalu membuka Bali dahulu ya..? hehehe.. rasanya meskipun sudah beberapa kali ke Bali, tapi beberapa tempat, belum terexplore semua. Maklum terakhir ke Bali lima tahun lalu, dalam hati pasti banyak tempat2 baru yang asyik dan belum pernah dikunjungi.
Langkah pertama dimulai dengan memesan ticket lewat agoda.com, mencari ticket termurah ke Bali. Yang muncul adalah Lion Air, ada beberapa pilihan tanggal, dan harga termurah di bulan Agustus muncul di tanggal 31. Ok, berarti tinggal cari ticket dengan harga termurah untuk pulangnya. 3 September ternyata harganya juga yang termurah. Langsung tanpa pikir panjang, klik "Beli". Dengan mengikuti beberapa petujunjuk, sampailah perintah untuk segera mentransfer dana lewat ATM BCA. Dalam 24 jam ticket PP Jakarta- Denpasar -Jakarta terbeli dengan harga Rp.844.000,-. Lumayan.. daripada naik pesawat lain, harganya mendekat angka 1 juta.
Langkah kedua, mencari hotel lewat internet, setelah mencari lewat dealkeren.com, maka pilihan jatuh pada pophotels.com yang terletak di Legian, Kuta. Pertimbangan memilih hotel ini karena dekat dengan pantai, masih baru, sudah pasti masih bersih, dan harganya.. wow.. hanya Rp.288.000,- nett per malam. Langsung kupesan dan pembayaran segera ditransfer lewat BCA untuk 4 hari 3 malam.
Tibalah hari keberangkatan,
Siang hari sesampainya di lokasi finish, kami membasuh badan dengan sabun dan air, kami disajikan makan siang dengan sop hangat, ayam goreng suir2 dan sambal, membuat perut yang sudah keroncongan langsung penuh terisi.
Tibalah hari keberangkatan,
Day 1:
Belum pernah kami merasakan keberangkatan dari terminal 3, terminal
baru d Cengkareng. Setelah supir mendrop, kami cukup berdecak kagum dengan
kebersihannya. Dengan hanya menunjukkan e-ticket yang sudah diambil 1 hari
sebelumnya di Lion Air pusat di jl, Gajah Mada, kami langsung berjalan menuju
waiting room tanpa antri ke check-in counter.Kebetulan kami sekeluarga membawa
tas untuk cabin, tidak ada yang masuk bagasi. Mengingat penerbangan Lion Air tidak menyediakan
makanan dan minuman, kami menikmati
makan siang terlebih dahulu di Bakmi GM. Oya, ternyata ada es krim kesukaan keluarga
kami juga dijual di terminal 3 lhooo, es krim Magnum Gold keluaran Wall's.. wuihhh, mantabbb..
lengkaplah sudah santapan siang beserta dessertnya..
Keberangkatan dengan pesawat Lion Air, Alhamdulillah, tepat
waktu. Namun kami cukup kecewa ketika tiba di
terminal Ngurah Rai yang kusam, panas dan sumpek. Mungkin karena sedang
direnovasi, ruang baggage claim yang sempit, penuh sesak penumpang yang mau
mengambil kopernya. Kami langsung mengecek harga taksi gelap airport, mereka menawarkan 75.000 ke Kuta, dan taksi resmi
airport 45.000. Namun karena informasi dari teman bahwa mencegat taksi di luar
airport lebih cepat dan mudah, dan hanya 25.000,-, maka kami berjalan ke luar
arena airport dan mencegat taxi Blue Bird. Supir yang ramah menanyakan tujuan
kami ke Bali, dan sembari berkelakar ia berkata, “Orang Jakarta ke Bali untuk
mengurangi stress ya. Yang punya hutang
banyak, perasaan hutangnya lunas kalau sampai di Bali.” Hahahahaha… ada ada aja supir Bali ini.. yah namanya juga
pulau Dewata, pendatang perlu merasa seperti dewa sebentar.. merasa di tahta yang tinggi.. dan jauh dari stress dan beban..
Pophotels Legian, Kuta, yang kami pesan via internet, melebihi ekspektasi,
karena sewaktu membooking, yang terbayang adalah hotel sempit, seperti ruko2 di
Jakarta, namun kami menjumpai bahwa kamar hotel cukup banyak, ada 263 kamar, 6 lantai, serta hotelnya dilengkapi dengan
swimming pool. Desainnya minimalis, dengan sentuhan warna2 solid yang cerah. Untuk anak2
kami yang masih ABG, interior hotel sangat menarik hati mereka. Soal kebersihan
(ini yang terpenting), tidak diragukan lagi, karena hotel ini baru akan Grand
Opening tanggal 15 September mendatang. Kekurangannya, apabila dari jalan Kuta, letaknya agak masuk
ke dalam, jalan masuknya kecil. Ke
pantai Kuta perlu berjalan kaki 5 menit. Namun kami beruntung karena memperoleh harga sangat istimewa,
hanya Rp.288.000,- nett per malam.
Kami menikmati hari pertama kami di Bali dengan berenang di
swimming pool dari siang hingga sore hari.
Selepas sore hari, lanjut berenang ke pantai Kuta dan duduk di pasir
putih nan halus, menyaksikan terbenamnya sang surya. Hari yang indah. Beautiful
sunset. Another day in Paradise...
Day 2:
Sewaktu di Jakarta, melalui Livingsocial.com kami memesan
permainan water sports: parasailing, banana boat, flying fish, roulette donut dan jet
ski di Tanjung Benoa. Tentu saja ticket yang kami beli adalah dalam rangka
promosi yang ditawarkan. Lumayan bisa ngirit
beberapa puluh ribu dibanding kalau kami langsung ke lokasi. Beginilah kalau
perempuan.. kebiasaan belanja barang sale, jadi kalau ada promo, demen dech
rasanya.. hehehe… Lagipula hal ini kan mempersingkat waktu, jadi kami tidak harus tawar menawar yang
melelahkan dan menyita waktu. Paket permainan watersport sudah termasuk sarana
antar jemput ke hotel apabila pemesan tinggal di wilayah
Kuta.
Perjalanan ke Tanjung Benoa hanya memakan waktu 15 menit, pantainya tidak memiliki ombak setinggi pantai
Kuta, namun dengan angin yang memadai, permainan laut sangat bisa dinikmati.
Anak2 dengan gembira berlarian di pantai dan mencoba semua permainan watersports yang ada. Kami berteriak2 antara ngeri dan senang berada di atas perahu karet flying
fish, melayang2 terbang ditarik oleh speed boat. Wuihhhh… cucok dech buat olahraga
jantung.. Sayang Parasailing tidak bisa
kami nikmati karena saat itu sedang bertiup angin barat, sehingga operator
tidak berani membawa kami dengan speed boatnya. Sebagai penggantinya, anak2
kami boleh mencoba jet ski sekali lagi.
Day 3:
Setelah semalam bernegosisi harga sewa mobil dengan
security di pophotels.com, kami menyewa
mobil Karimun Estillo dengan biaya sewa untuk 24 jam sebesar Rp.220.000,-.
Mobil dikendarai sendiri tanpa supir dari rental mobil. Kami hanya perlu
meninggalkan ticket pesawat dari salah
satu rombongan kami.
Mobil melaju menuju
desa Carangsari, dekat dengan lokasi
Sangeh, tempat wisata monyet. Jam 9.30 kami sampai di Bahama Rafting, biaya per
orang kami beli di Living Social.com dalam rangka promo, adalah Rp.199.000,-
untuk route panjang dan itu sudah termasuk makan siang. Jacket, dayung, perahu
karet serta seorang instruktur pendamping
telah disediakan. Saat di lokasi start, instruktur memberi instruksi
bagaimana cara mendayung dan memegang tali di perahu karet apabila perahu karet
dalam kondisi tidak stabil, saat berada di riak2 sungai.
Maka dimulailah
petualangan kami mengarungi sungai Ayung, suasana sangat nyaman dan syahdu,di samping kiri dan
kanan pemandangan sangat memukau dengan pohon2 yang menjulang tinggi, hutan2
nan asri, dan kicauan burung2 liar diantara pohon2 yang tumbuh liar. Kami
melewati kelokan sungai, melewati permukaan yang rata dan melewati bagian yang beriak2 pula. Instruktur akan
segera member perintah untuk mengangkat dayung, jika melewati riak2 sungai. Dayungpun diangkat dan disimpan di perahu. Selama kurang lebih 1,5 jam
kami mengarungi sungai Ayung,ditambah setengah jam istirahat di pinggir sungai,
sembari minum air kelapa penawar dahaga. Menjelang 100 meter menuju lokasi,
kami diijinkan untuk berenang . Wow.. ini adalah momen yang kami tunggu-tunggu.
Sejak tadi aku dan bocah2 kecilku sudah tak sabar ingin terjun ke air sungai. Maka
tanpa diberitahu dua kali, kami mengambil ancang2 untuk meloncat ke luar perahu
karet. Byurrrr… brrrr.. uuuhhh ..
dinginnn.. tapi sungguh2 sangat menyenangkan… sensasi berenang mengarungi
sungai berarus alami, hening hanya ditemani kicau burung, dengan pemandangan batu2 besar dan
pohon2 tinggi di kiri kanan, merupakan sensasi yang tak akan kulupakan seumur
hidup.
Siang hari sesampainya di lokasi finish, kami membasuh badan dengan sabun dan air, kami disajikan makan siang dengan sop hangat, ayam goreng suir2 dan sambal, membuat perut yang sudah keroncongan langsung penuh terisi.
Day 4:
Hari ini kami kembali menyewa mobil menuju Garuda Whishu Kencana di
Uluwatu. Dengan gerbang masuk
yang lebar dan besar, GWK seakan ingin
diakui dikemudian hari sebagai pemilik patung terbesar di Asia Tenggara.
Konon kabarnya patung2 GWK akan dibuat lebih besar dari patung Sleeping Budha
yang ada di Bangkok. Namun saat ini pemerintah Bali baru merampungkan bagian kepala dahulu. Saat
kami sampai, kami membayar ticket seharga 30 ribu rupiah untuk dewasa dan 25
ribu untuk anak-anak. Memasuki entrance GWK, para pengunjung dapat membaca
kisah burung Garuda, melalui batu2 besar
yang tertanam di dinding. Sungguh sangat menarik kisahnya.
Waktu menunjukkan pukul satu siang, saat pertunjukkan tari
Barong disuguhkan kepada penonton secara cuma-cuma. Kami menonton selama kurang lebih setengah
jam. Tariannya sangat menghibur dan layak untuk ditonton bersama keluarga. Di bagian tengah kawasan GWK, pengunjung
dapat naik tangga dan melihat dari dekat kepala burung Garuda, serta menikmati
batu cadas yang telah rapih dipangkas dan membentuk kotak-kotak kubus
besar. Berfoto di lokasi ini sangat
indah hasilnya.
Menjelang sore hari, kami berkendaraan menuju pura Uluwatu.
Uluwatu sendiri artinya Ulu=hulu=ujung, Watu=Batu, jadi artinya adalah Batu
yang terletak paling ujung (pulau Bali). Di
pura Uluwatu sore hari, cukup padat wisatawan. Pura ini berada di
ketinggian tebing, dan dari atas kami dapat menyaksikan tebing2 tinggi ini
sangat indah terlihat, jika kami melihat
ke bawah, tebing2 ini terlihat indah dengan deburan ombak yang pecah menimpa
tebing2 tersebut. Sebuah pura kecil di
ujung atas tebing, terlihat sangat sacral dan serasi dengan suasana yang ada. Kami duduk santai dan sangat
menikmati pemandangan yang luar biasa ini. Namun saat menuju pulang ke tempat
parkir,kami perlu berhati-hati, karena kacamata dan kamera akan menjadi sasaran
kejahilan monyet2 yang berkeliaran bebas di sekitar parkiran. Seorang ibu
tourist dr Taiwan berteriak-teriak kaget saat seekor monyet mencaplok kacamata
mataharinya. Untung saja seorang petugas
segera membantu mengembalikan kacamatanya, tapi.. tuh monyet kok tau aja
kalau kacamata tourist Taiwan itu
bermerek dan mahal. Kok monyetnya gak
napsu ngelihat kacamata duapuluh ribuan yang kita pakai.. dasar monyet matre..
hahahaha..:)
Karena ingin menyaksikan sunset dar I salah satu sisi yang
terbaik di Bali,maka kami berkendaraan lagi menuju Uluwatu beach. Kali ini kami harus turun dari atas tebing
tinggi menuju ke pantai pasir putih. Tangganya cukup banyak dan melelahkan karena
tebingnya cukup tinggi , tapi karena kami dari sisi pura tadi, sudah melihat pantai
pasir putih yang indah dari kejauhan, dan penasaran bagaimana cara mencapainya,
maka meskipun dengan napas tersengal2, aku tetap semangat menuruni tangga yang
lama2 menyempit, hanya sebatas badan dan tanpa pegangan pulak.. huahhhh.. cuapekk..
Tapi lelah tersebut
segera terobati. Pantainya sangat natural, dan biota2 laut serta ikan2 kecil seperti
Nemo, berenang bebas diantara karang2 dan rumput-rumput laut di sekeliling kaki
kami . Tertulis himbauan dari organisasi pencinta laut Internasional, agar para pengunjung dapat
tetap menjaga kelestarian pantai Uluwatu. Sekitar 50 meter dari pantai, ombak2 besar
menjadi incaran para surfer.
Kelihatannya lebih banyak surfer bule yang bermain surfing di sini, dibanding di
pantai Kuta. Salut juga melihat keberanian mereka menaklukan ombak2 yang
tingginya mungkin lebih dari 10 meter. Salut juga untuk keseimbangan badannya.
Malam hari kami
janjian dengan pihak penyewa mobil untuk bertemu di bandara Ngurah Rai, serah
terima kendaraan dan pengembalian ticket pesawat suami.
Selamat tinggal pulau dewata, hopefully we'll come back again….




Tidak ada komentar:
Posting Komentar